Tuesday, July 08, 2008

Kompetisi nge-Blog: Update

Dari sini:

Rekan bloggers,

Masih ingat dengan entri kami ini? Hingga akhir masa penulisan kami memperoleh 12 entri yang berhubungan dengan manfaat dan perkembangan bahasa Inggris di Indonesia. Ke-12 entri tersebut di tulis oleh 10 bloggers yang terdaftar sebagai peserta kompetisi blog periode dua. Dari seluruh entri inspiratif dan kreatif yang rekan-rekan tulis, kami telah memilih 3 blogger dengan entri terbaik, mereka adalah:

Mas Kopdang, Alief Rezza, dan Agus Muhammad Ustad


Sementara itu, Kompetisi Periode 3 akan ditutup tanggal 31 Juli 2008.



Alhamdulillah.

Thursday, July 03, 2008

Tidak Semua Berarti Ndeso (Bagian 3-Habis)

Tidak berhenti sampai di situ, penulis pun mencatumkan beberapa contoh yang membuat saya bertambah bingung:

1. Kemiskinan dan Ponsel

Orang bisa antri Raskin sambil pegang hp

Terbesitkah di benak kita bahwa HP sudah sedemikian murahnya sehingga penggunaan HP bisa lebih menjadi barang modal (di kasus tukang ojek dan sopir taxi, yang mereka semua berhak mendapat raskin, tapi menggunakan HP untuk menunggu order)? Atau lihat apa kata The Economist
Mobile phones have become indispensable in the rich world. But they are even more useful in the developing world, where the availability of other forms of communication—roads, postal systems or fixed-line phones—is often limited. Phones let fishermen and farmers check prices in different markets before selling produce, make it easier for people to find work, allow quick and easy transfers of funds and boost entrepreneurship. Phones can be shared by a village

2. Gelar Akademik Palsu

Orang beli Gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah

Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di cibubur

Ini sama penjelasannya seperti kasus penampilan, sebagaimana dijelaskan di poin ke 5 tulisan sebelumnya. Mereka semua merespon insentif: pemerintah yang membiarkan jual beli ijazah, kompetisi mencari kerja yang susah, dan banyak lagi lainnya.

3. Fast Food dan Kesibukan

Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk Mc Donald

Bukannya Mc Donald itu fast food ya? Bukankah orang sibuk memang harus ke fast food biar dia tidak buang – buang waktu?

4. Orang Penting dan Detil Sepak Bola

Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan

Apa yang salah dengan ini? Mungkin penulis belum kenal PM Italia, Silvio Berlusconi, orang penting pemilik AC Milan? Atau keluarga Agnelli pemilik industri Fiat dan klub terkenal Juventus? Atau Thaksin Sinawatra, mantan PM Thailand dengan Manchester City-nya? Mereka semua tentu orang penting, dan mereka semua dipastikan secara relatif mengetahui detail dunia sepak bola.

5. Aktivis dan Ponsel

Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin hp

Apakah tidak mungkin aktivis itu sibuk mengkoordinasikan kegiatannya dengan HP, memakai layanan organizer di dalam HP nya untuk menyelaraskan jadwal?, Mungkinkah sang aktivis sibuk ber-SMS untuk berkoordinasi dengan sesama aktivis lainnya?


Lagi perlu saya tekankan bahwa saya menangkap sekali himbauan kesederhanaan yang disampaikan penulis. Tapi hal – hal di atas (dan beberapa lain yang saya memutuskan untuk tidak membahas) malah mendistorsi pesan moral yang disampaikan. Alih – alih kritis, tulisan tersebut malah terkesan sinis.

Di titik ini saya bersyukur untuk belajar ilmu ekonomi. Ilmu yang sering dikritik sebagai ilmu yang bebas nilai ini justru menjadi sangat simpatik. Ekonom tidak mencurigai orang miskin membeli HP sebagai orang yang boros, sebaliknya ekonom memperlakukan mereka sebagai rational economic agent yang berusaha memaksimalkan utilitas-nya. Analisa biaya manfaat mereka akhirnya memutuskan bahwa membeli HP adalah lebih prioritas dan lebih menguntungkan dibanding pengeluaran – pengeluaran yang lain.

Akhirnya, ada saat dimana tulisan tersebut benar. Tulisan ini mencoba menjelaskan bahwa ndeso di Indonesia tidak selamanya terkait dengan keengganan untuk hidup sederhana. Ndeso, sebagaimana diuraikan di atas, lebih merupakan respon natural dari sulitnya hidup sebagai rakyat Indonesia saat ini.
Tidak Semua Berarti Ndeso (Bagian 2)

3. Orang Jepang dan Communicator.

Satu bulan saya di jepang tidak melihat orang pakai hp communicator, mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca Koran ternyata konsumen terbesar hp communicator adalah Indonesia. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang deso siapa yaa?

Mungkin orang Jepang tidak menggunakan communicator. Mungkin mereka emoh terhadap tekhnologi karena mereka sendiri adalah gudangnya tekhnologi. Mungkin mereka lebih memilih Sony daripada Nokia. Tapi satu hal yang saya tahu pasti: turis Jepang sangat mudah ditemui di mana – mana. Dalam kesempatan ber-backpaking ke beberapa kota di Eropa, (saya sebut beberapa, bukan bermaksud ndeso, tapi agar terlihat bahwa sampelnya lumayan banyak dan random, Turin, Milan, Venice, Roma, Paris, Copenhagen, Helsinki, Amsterdam, Berlin, Oslo, Bergen) turis dari Jepang selalu saya temui. Beberapa malah memilih untuk tinggal di hotel - hotel mahal. Yang lain adalah mahasiswa yang memang mengambil cuti secara khusus untuk berekreasi. Saya juga mengamati mereka kerap kali menenteng barang – barang bermerk. Coba lihat cerita mbak Rosa di sini. Lihat betapa orang Jepang juga ndeso dengan cara mereka sendiri.


4. Perumahan di Jepang dan di Indonesia

Jangan-jangan kalau orang jepang diajak ke Pondok Indah bisa Pingsan melihat rumah segitu gede dan mewahnya. Rata-rata rumah disana memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan.

Ah, pasti penulisnya belum pernah melihat ini. Memilih Pondok Indah sebagai pembanding juga berpotensi menimbulkan bias. Mereka di Pondok Indah hanyalah segelintir dari penduduk Indonesia yang sebagian besar malah belum punya rumah. Apakah penulis juga sudah melakukan survey ke dalam rumah – rumah kecil tersebut?

Rumah kecil keluarga Nobita atau Shizuka di serial Doraemon misalnya, sudah dilengkapi dengan telepon dan bath-ub untuk berendam. Rumah ukuran 64 m2 yang saya tinggali sekarang di Norway sudah dilengkapi dengan air panas untuk mandi, air kran yang drinkable, listrik yang tidak byar pet seperti di Indonesia, TV kabel dengan beberapa channel, yang semuanya relatif murah sekali biaya bulanannya. Adakah rumah – rumah di Indonesia (baik yang mewah, atau boro – boro yang sangat sederhana), sudah mendapatkan itu semua?

Tengok pula penjelasan a la ekonomi pembangunan: kemiskinan kadang kala mendorong orang untuk mempunyai banyak keturunan. Mereka berharap kelak di hari tua, keturunannya lah yang menjamin hari tua mereka (karena tidak ada jaminan sosial memadai seperti di Jepang, atau Norway misalnya). Struktur keluarga seperti ini kemudian memaksa mereka yang sukses untuk membangun rumah yang luas, atau beli mobil yang besar untuk kemudian mengakomodasi anggota keluarga lain yang belum mampu atau orang tua yang sudah sepuh. Banyak keluarga di Indonesia yang masih satu tempat tinggal meski 3 generasi sudah terlahir. Apakah mereka ndeso?

5. Penampilan orang Indonesia dan di Australia

Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara ceremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai Merk Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik,para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.

Pernahkah penulis membayangkan sulitnya mencari kerja di Indonesia? Terlalu banyak pengangguran, terlalu sedikit lapangan pekerjaan. Ketika memang sudah bukti empiris bahwa mereka yang tampil keren dan cantik akan cenderung mendapatkan gaji yang lebih tinggi, kompetisi yang keras di Indonesia memaksa pencari kerja (dan mereka yang sudah bekerja) untuk berdandan lebih keren lagi.

Ambil contoh demikian: Saya buka perusahaan dan buka lowongan satu orang sekretaris. Ada 3 pelamar dengan kualifikasi setara: ya pengalamannya, ya pendidikannya, ya segalanya. Siapa yang bakal saya pilih? Tentu yang penampilannya paling keren.

Apakah para pelamar tersebut ndeso? Tentu tidak, yang ndeso dan norak adalah pemerintah yang tidak mampu menstimulus perekonomian, menyediakan lapangan pekerjaan, tidak memberantas korupsi, atau terus – terusan mensubsidi BBM

Ke Bagian 3...
Tidak Semua Berarti Ndeso (Bagian 1)

Saya yakin hampir semua dari kita pernah membaca “Ndeso”. Tulisan ini beredar luas dari milis ke milis dan sangat gampang ditemukan lewat googling (atau yahoo-ing). Penulisnya masih simpang siur. Ada yang bilang tulisan itu dibuat Abdullah Muadz, seorang ustad dari Depok. Versi lain mencantumkan nama Ika S Creech, orang Indonesia yang sekarang menjadi pembawa acara di Perancis. Tulisan di atas bisa ditemukan misalnya di sini (hehe.. maaf ya Fith). Daftarnya bisa dilihat di sini.

Ketika himbauan sang penulis untuk hidup sederhana bisa saya tangkap, ada hal – hal yang membuat tulisan itu sendiri adalah sebenar-benarnya contoh perbuatan yang ndeso. Seperti yang didefinisikan sendiri oleh penulis, orang ndeso adalah orang yang:

Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.

Penulis membandingkan langsung kebiasaan orang Indonesia dengan kondisi penduduk negara yang penulis kagumi tanpa setidaknya mencoba memahami apa yang menyebabkan perbedaan tersebut terjadi. Berikut beberapa hal yang saya maksud:

1. Penggunaan Sepeda


Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus…… Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi Negara, juga naik kereta.

Ini sangat lumrah. Bahasa ilmu ekonomi yang pendek menjelaskan fenomena ini dengan 2 kata: incentives matter. Menggunakan transportasi publik di Tokyo (saya tidak tahu untuk kasus Jepang) sangatlah mudah, dan lebih – lebih, murah! Sebaliknya, menggunakan transportasi pribadi semisal mobil akan sangat mahal. Alih – alih disubsidi, BBM di Jepang adalah subjek pajak. Alasan lain adalah

Owning a car in Japan is expensive due to the mandatory bi-annual inspections (shaken), mandatory insurance, an automobile tax and the fee for a parking space (in large cities). The cars themselves, however, are relatively inexpensive, with smaller new cars starting at under one million A liter of gasoline costs around 100 Yen. The use of highways is subject to tolls.

seperti disampaikan di sini. Di lain pihak, sepeda sangatlah praktis. Ia bisa dinaikkan ke bus dan kereta api. Tengok peta layanan kereta api Tokyo di bawah ini.

(Gambar di ambil dari sini)

Bandingkan dengan peta layanan BusWay di Jakarta yang kualitasnya semakin menurun.

(Gambar diambil dari sini)

Saya pribadi pernah bertemu seorang yang menggunakan sepeda untuk datang ke bandara Kastrup di Copenhagen. Ini tentu saja mustahil untuk terjadi di Indonesia. Menggunakan sepeda untuk ke Cengkareng misalnya, bisa – bisa membuat anda patah kaki, atau bahkan tenggelam jika musim banjir tiba.

2. Post Doc dan Pelayan Restoran

Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia seorang warga Negara Malaysia keturunan cina, sudah selesai S3, sekarang lagi mengikuti program Post Doc, Dia anak serorang pengusaha yang kaya raya.
Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.

Ini lagi – lagi normal dengan insentif sebagai penjelas. Membandingkan gaji pelayan di Sydney dan di Jakarta tentu sangat tidak adil. Banyak cerita bertutur bahwa sekolah di Australia dan, ini yang pasti, Norway bisa dibiayai hanya dengan menjadi janitor atau tenaga cleaning service atau pekerjaan sejenis lainnya. Di Norway, apapun pekerjaan anda, kualifikasi pendidikan akan mempengaruhi gaji. Meskipun sama – sama pelayan, mereka yang doktor, apalagi pos-doktor akan memperoleh gaji lebih tinggi daripada mereka dengan kualifikasi pendidikan di bawahnya. Saya sendiri, meski mendapat beasiswa dari kampus, sempat melamar sebagai tenaga cleaning service di sebuah kantor. Gaji kotor-nya berkisar Rp. 300.000 per jam.


Ke Bagian 2...

Monday, June 30, 2008

Belajar Bahasa Inggris: Catatan Pribadi (Bagian 2-Habis)


Dari pengalaman pribadi yang saya tulis sebelumnya, belajar bahasa asing (Inggris dan lainnya) , tidak bisa tidak, hanya bisa terjadi (dengan cepat) jika sang pembelajar berada di lingkungan yang mengharuskan dia aktif menggunakan bahasa tersebut. Saya pribadi merasa mendapat akselerasi kemampuan listening semenjak di Norway. Hiburan saya waku itu adalah film hasil mengunduh, yang hampir semua tanpa subtitle. Kadang saya hentikan sebentar film yang diputar untuk mencari tahu arti kata dimaksud. Di titik ini lagi saya sadari bahwa perkataan “Saya tidak mengerti maksud dia karena pengucapan Bahasa Inggrisnya tidak jelas” sangat salah kaprah. Saya bisa katakan 20% mungkin kesalahan pembicara yang kurang bagus pengucapannya, tapi 80% adalah kesalahan kita yang mungkin tidak mempunyai kata dimaksud dalam perbendaharaan vocabulary kita.

Mendengarkan film dengan bahasa asing sangat membantu juga untuk memberikan kita referensi kelak ketika kita harus bercakap dengan orang lain. Alih – alih memikirkan harus bagaimana berbicaranya, kita bisa mengulang kalimat yang sama persis dengan kalimat yang diucapkan oleh pelaku di film yang kita tonton. Kita kemudian juga bisa menilai film atau acara jenis apa yang banyak ditonton oleh seorang penutur bahasa asing dari pilihan kata dan dialeknya ketika ia berbicara.

Lingkungan ini akhirnya menjadi faktor progress saya dalam berbahasa Inggris. Setahun lalu saya mengikuti tes TOEFL lagi. Walaupun writing score-nya masih kurang memuaskan, kali ini nilainya keseluruhan sudah melebihi angka 600. Saya juga merasa bahwa skill speaking saya masih harus diasah. Tinggal di Norway sedikit banyak menyulitkan saya untuk bisa membaca tulisan, mendengar pembicaraan, dan mengasah kemampuan bicara dalam bahasa Inggris.

Jikalau boleh bersaran, pengajaran bahasa Inggris ke depan mungkin harus diarahkan kepada sistem yang memberi kesempatan kepada murid untuk (lebih) banyak berpraktek ketimbang berteori: praktek mendengar, praktek membaca, praktek berbicara, dan praktek menulis. Mungkin saya salah, tapi belajar grammar bisa dilakukan sambil jalan. Hasil tes TOEFL saya terakhir di bagian grammar cukup memuaskan meskipun saya tidak pernah secara khusus belajar. Interaksi yang sering dengan tulisan dan mendengar orang berbahasa Inggris sudah cukup untuk, menurut saya, mendeteksi mana grammar yang benar (atau umum digunakan) dan mana yang janggal (janggal karena tidak “enak” untuk didengar).

Sedikit saran lain yang mungkin membantu dalam belajar bahasa asing adalah berperang dengan xenophobia dan turunannya. Fasih bertutur dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing (dalam hal ini Inggris) bukan merupakan pilihan. Keduanya bisa berjalan seiring. Nasionalisme dan cinta pada budaya lokal tidak harus membuat seseorang menjadi xenophobist. Saran di paragraf ini mungkin terdengar mengada-ngada. Tapi yang demikian nyata terjadi. Tengok cerita peneliti CSIS Indra Jaya Piliang.

Karena pernah memenangkan juara tiga lomba bahasa Inggris di Sekolah Menengah Umum 2 Pariaman, saya menulis catatan harian saya dalam bahasa Inggris. Namun, lama-kelamaan, kebiasaan itu saya hilangkan. Ketika menjadi aktivis kampus, saya terombang-ambing dengan kebencian terhadap Barat, termasuk hegemoni budayanya. Akibatnya, saya juga membenci bahasa Inggris. Sesuatu yang dampaknya luas sampai sekarang.

Tentu sangat menyedihkan jikalau orang brilian menjadi terhambat proses aktualisasi dan belajarnya hanya karena masalah bahasa. Sebaliknya, mungkin harus disadari jika belajar bahasa asing bermanffat di banyak hal. Secara pribadi, ia berarti pintu yang terbuka terhadap ilmu dan jutaan peluang baru. Secara nasional, sebagaimana dibahas di tulisan sebelumnya, fasih bertutur bahasa asing juga berperan dalam penguatan ekonomi nasional.
Belajar Bahasa Inggris: Catatan Pribadi (Bagian 1)



Buat saya belajar bahasa Inggris itu susah. Sampai usia yang lebih dari seperempat abad, saya menilai bahasa Inggris saya masih belepotan. Terutama speaking-nya. Pun begitu, level bahasa Inggris yang demikian ini tidak saya capai dengan mudah. Butuh waktu lama dan seringnya makan ati.

Seperti rekan-rekan lain di usia yang sama, pengenalan formal dengan bahasa Inggris saya mulai di bangku SMP, kelas 1 tepatnya. Sebelum itu, praktis singgungan saya dengan bahasa Inggris adalah seadanya, kosa-kata harian yang sering didengar anak – anak: snack (chiki - misalnya), aqua (air kemasan), wafer (makanan ringan lain) dsb. Saya sempat ikut kursus bahasa Inggris waktu SMP. Jangan bayangkan kursus model LIA, EF atau ILP, ini cuma datang dua kali seminggu ke rumah teman yang ibunya dosen bahasa Inggris. Materi kursusnya sejalan dengan materi ajar di sekolah. Akses lainnya ke bahasa Inggris nyaris nihil. Tidak ada akses TV ke BBC , atau Disney Channel misalnya, atau akses ke novel-novel bahasa Inggris. Lagu dengan lirik Inggris memang banyak, tapi saat itu belum terpikir untuk begitu mendalami arti tiap kata. Beberapa teman yang relatif berkecukupan memilih untuk kursus komuter di Surabaya, kota berjarak sekitar 2 jam dari kota tempat saya tinggal. Tentu berat di ongkos dan waktu. Saya sendiri tidak masuk di kelompok ini.

Masuk SMU, saya sudah tidak lagi ikut kursus. Ibu teman teman saya yang dosen ini memutuskan untuk memberi prioritas waktu dan ruang rumahnya untuk memberi kursus ke anak-anak usia SD dan SMP. Maklum, waktu dan pemasukan hampir sama, tapi tuntutan materi jauh berbeda. Di SMU juga saya sempat ikut Pioneer English Club -- keren sekali namanya -- sejenis organisasi ekskul di sekolah. Saya lupa, entah saya yang malas-malasan datang ke pertemuannya, atau memang pertemuannya tidak rutin diadakan, yang jelas saya tidak beroleh banyak manfaat dari organisasi ini. Sebenarnya SMU saya mempunyai Lab Bahasa Inggris. Tapi entah kenapa, seingat saya, dari 3 tahun sekolah kami para murid hanya diajak ke sana kurang dari 5 kali. Celakanya lagi, SMU adalah saat dimana saya sedang malas – malasnya belajar. Tidak ada progress berarti di kemampuan bahasa Inggris saya selama SMU. Kelak saya sempat dibuat merinding ketika berkunjung ke rumah kawan saya di kawasan Kebayoran Jakarta. Saya melihat keponakan teman saya ini, masih berusia SMP, menulis dengan lancar tugas sekolahnya dalam bahasa Inggris. Ini yang banyak saya sesali: medio SMP-SMU dimana teman – teman sebaya saya di Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya dan kota besar lainnya sedang menikmati progress luar biasa di kemampuan Bahasa Inggrisnya, saya berprogress hampir –hampir nihil.

Namun, syukur luar biasa saya rasakan karena bangku kuliah memberi banyak andil dalam proses belajar bahasa Inggris saya. Di minggu pertama kuliah, saya sempat khawatir untuk bisa survive di kampus, terutama setelah melihat text book kuliah hampir semuanya berbahasa Inggris: Lipsey (Economics), Warren-Reeve-Fess (Accounting), Alpha Ciang (Matematika Ekonomi), dan beberapa lagi yang saya lupa. Sempat putus asa dengan buku-buku itu, saya mencoba beralih ke buku terjemahan. Sebuah keputusan yang fatal karena terjemahan buku-buku tersebut sangat memusingkan (literally!!!). Saya kembali ke buku – buku teks bahasa Inggris dan membuktikan validatas learning curve: sangat susah di awal, namun menjadi lebih mudah di waktu berikutnya. Pendeknya, reading-understanding saya mengalami peningkatan drastis, tapi masih bego di nilai absolut.

(Seperti economy growth negara miskin yang bisa 7% setahun, tapi tetap saja GDP nya tidak bisa melampaui negara kaya yang, seperti Norway misalnya, mungkin hanya bertumbuh 2-3% setahunnya).

Di tahun ketiga perkuliahan, saya tambah sadar kalau kemampuan bahasa Inggris saya itu:

Reading: Tidak Memalukan,
Listening: Tidak Memalukan,
Writing: Not Available, hehe..
Speaking: Sangat Memalukan.

Teman-teman yang sempat satu panggung di perlombaan mahasiswa berprestasi fakultas dan universitas mungkin bisa jadi saksi. Walau jadi juara, mungkin itu kali pertama UI punya mapres (mahasiswa berprestasi) dengan kemampuan bahasa Inggris memalukan. Bisa ditebak, saya sukses terkapar di kompetisi yang sama di tingkat nasional. Skill bahasa Inggris mungkin jadi salah satu penyebabnya. Jadi lebih memalukan karena saat sesi tes bahasa Inggris, saya berada satu sesi dengan mahasiswa lain yang kemudian jadi juara. Mbak – mbak juara nasional ini (mau di link blog-nya tapi saya tidak punya akses ke sana, hehe... Only her close friend can access and I, considered as a-not-close one, can not. hehehe...) katanya mulai baca novel bahasa Inggris sejak SMP, ikut sejenis EDS (English Debating Society), dan jadi presiden himpunan mahasiswa sejurusan-nya tapi di level internasional (setidaknya itu yang dia sampaikan di sesi ice-breaking perkenalan diri. Strategi yang jitu, membuat juri aware akan posisi dia, sekaligus menjatuhkan mental kompetitor semacam saya, hehehe). Jauh sekali bukan bedanya? Ini mungkin contoh riil kalimat there is no such thing such a free lunch. Saya yang menghabiskan masa SMP dan SMU untuk main bola, basket, dan sok sibuk di OSIS harus membayar alokasi waktu masa itu dengan kemampuan bahasa Inggris sekarang yang seadanya.

Lepas dari situ, saya tetap memaksakan ikut lomba dan kompetisi lain yang membutuhkan kemampuan bahasa Inggris. Saya tahu saya tidak bakal lolos, tapi setidaknya saya menceburkan diri ke situasi yang memaksa saya belajar. Ada lain cerita dimana saya dipanggil wawancara program SIF-ASEAN Student Fellowship. Agar tidak memalukan, saya berstrategi dengan membuat simulasi wawancara, mencatat pertanyaan yang mungkin muncul, membuat draft jawaban dalam bahasa Indonesia, kemudian menerjemahkan ke bahasa Inggris. Agar tidak lupa, jawabannya saya rekam dan saya ingat – ingat. Kaset rekaman saya dengar lagi untuk dilihat cacatnya ada dimana. Melelahkan sekali memang. Banyak yang jelek tentu saja: dialek yang keluar adalah dialek Jawa, grammar berantakan, dan jawaban tidak terstruktur. Tapi ya kalau jalannya harus seperti itu mau bagaimana?

Masih banyak cerita memalukan lain (yang tetap ingin saya ingat sebagai bagian dari proses belajar saya). Seperti ikut training gratis dari kampus untuk para asisten dosen yang ingin melamar S-2 ke luar negeri. Saya masuk training dengan hasil TOEFL test 530-an kalau tidak salah, selesai training, TOEFL saya malah turun jadi 520-an. Sempet dicela habis-habisan oleh trainernya, dan juga dibanding – bandingkan dengan peserta training yang lain (sesuatu yang amat saya benci!). Ada secarik cerita manis ketika akhirnya saya, yang sebel dengan caci maki itu, memutuskan untuk belajar sendiri, dan akhirnya sukses untuk bisa dapat TOEFL 543 dan akhirnya berangkat ke Norway. (Menyedihkan bukan? 543 aja dibanggain). Masih terbayang wajah khawatir (atau meremehkan?) dari trainer tersebut ketika saya mengabarkan admission saya untuk S-2 di Norwegia. Mungkin beliau ngerasa saya tidak bakal survive dengan skill bahasa Inggris saya. Bisa dipahami, karena beliau selain trainer, kebetulan juga merupakan juri kompetisi mapres di tingkat fakultas dan universitas. Beliau tentu paham betul gimana ancurnya bahasa Inggris saya.

Friday, June 27, 2008


Penguasaan Bahasa Inggris dan Performa Ekonomi

Ada teaser menarik dari panitia Blogging Competition, British Council Indonesia (BCI). BCI berpendapat bahwa penguasaan bahasa Inggris yang baik akan ikut berperan dalam memperkuat ekonomi Indonesia.

Benarkah demikian?

Well, seperti hal-hal yang baik lainnya (misal penguasaan tekhnologi, akses kesehatan yang bagus, institusi perekonomian yang kuat dlsb) penguasaan bahasa Inggris tentu saja bisa berkontribusi dalam penguatan ekonomi suatu bangsa. Namun di dunia dimana sumber daya selalu terbatas, dan kita dihadapkan dalam pilihan – pilihan perbaikan, menggenjot penguasaan bahasa Inggris adalah prioritas yang tidak terlalu utama dibandingkan dengan penyelesaian banyak masalah perekonomian lainnya. Penegakan dan kepastian hukum serta pemberantasan korupsi misalnya, harus berada di urutan pertama prioritas pemerintah. Dua hal tersebut hampir dipastikan akan memberikan dampak penguatan perekonomian yang lebih besar dibading dengan penguasaan bahasa Inggris yang baik.

Mengapa saya berpendapat demikian?

Pendek penjelasannya: pengalaman pribadi. Tiga tahun lalu saya mendapatkan beasiswa dari pemerintah Norwegia untuk melanjutkan studi Strata-2 (Master Program). Saya mendapatkan beasiswa Quota, yang bersama jenis beasiswa pemerintah Norway yang lain, NORAD, khusus diberikan kepada applicant dari negara-negara berkembang. Jikalau tidak salah ingat, ada satu orang lagi penerima beasiswa Quota bernama Ruth Nittah Mgwede dari Malawi. Di lain pihak, (seingat saya) ada 9 penerima beasiswa NORAD, 3 dari Uganda, 2 dari Ethiopia, dan masing-masing seorang dari Vietnam, Zimbabwe, Malawi, dan Bangladesh. Satu penerima beasiswa khusus karena bencana tsunami diberikan ke kawan saya dari Sri Lanka.

Satu yang saya iri dari beberapa teman sekelas waktu itu adalah kemampuan bahasa Inggris mereka. Mereka dari Uganda, Zimbabwe dan Malawi tentu saja fasih berbahasa Inggris karena mengadopsi Inggris sebagai bahasa resmi (official language). Sri Lanka dan Ethiopia di lain pihak mewajibkan penggunaan bahasa Inggris sebagai media komunikasi di level perguruan tinggi. Sementara itu, Bangladesh tercatat mempunyai 3,5 juta pengguna (pembicara) bahasa Inggris.

Dan, ini yang menarik, tidak sulit mencari persamaan negara – negara yang sebut di atas: semua adalah negara berkembang jikalau tidak bisa dikatakan miskin. Tiga pengguna bahasa Inggris sebagai bahasa resmi, Zimbabwe, Uganda dan Malawi terpuruk di urutan 178, 163 dan 168 berdasarkan pencapaian pendapatan per kapita setelah disesuaikan dengan purchasing power parity. Bandingkan misalnya dengan negara – negara yang mempunyai bahasa resmi non Inggris seperti Bangladesh (urutan 153), Sri Lanka[1] (114), Vitenam (129), dan Indonesia (120). Hubungan penggunaan Bahasa Inggris dan performa ekonomi ini ternyata juga tidak banyak berubah meski kita memperbesar sampel penelitian. Wikipedia menyebut bahasa Inggris termasuk bahasa yang banyak dipergunakan di Afrika. Di saat yang sama, kita juga menyaksikan bahwa negara – negara Afrika relatif kurang ketika kita menilik performa ekonomi mereka[2].

Menutup tulisan ini, saya teringat jargon populer di ilmu ekonomi pembangunan: necessary but not sufficient, terutama ketika kita membandingkan pilihan - pilihan kebijakan ekonomi. Mungkin seperti itulah kita harus meletakkan pentingnya penguasaan bahasa Inggris dalam kaitannya dengan performa ekonomi suatu negara, termasuk Indonesia: penting, tapi tidak cukup itu saja. Kekuatan institusi, kebijakan ekonomi, atau kemampuan mengelola konflik dalam negeri, jauh lebih penting dalam menetukan performa ekonomi suatu negara daripada penguasaan bahasa Inggris penduduknya.



[1] Wikipedia menyebut Inggris termasuk bahasa resmi Sri Lanka selain Shinhala dan Tamil.

[2] Seperti sebelumnya, “performa ekonomi “ diukur dari pendapatan per kapita negara ybs.


Kompetisi nge-Blog
Dalam rangka mempertingati ulang tahunnya yang ke-60, British Council Indonesia mengadakan kompetisi Blog. Direncanakan akan ada 3 periode kompetisi dengan tema yang berbeda - beda di tiap periodenya. Setelah periode pertama dengan tema Intercultural Dialog selesai, periode kedua dengan teman Knowledge Economy, sampai tulisan ini dibuat, sedang berlangsung dan akan ditutup tanggal 30 Juni besok. Info lebih lanjut dapat dilihat di British Council Indonesia now 60.

Update: Kompetisi tahap 3 sekarang sudah dibuka!

Monday, May 12, 2008

Subsidi BBM dan Bayang – Bayang Kelaparan

(published version by Jurnal Nasional, May, 10, 2008 has some minor changes)

Alief Aulia Rezza*
Mahasiswa PhD di Departemen Ekonomi, Norwegian School of Economics and Business Administration.

Dunia sedang siaga satu. Meroketnya harga minyak dunia ternyata dibarengi oleh kenaikan tajam harga – harga bahan pangan. Bank Dunia meramalkan bahwa tidak kurang dari 100 juta jiwa akan jatuh miskin jika krisis pangan tidak segera di atasi. Peter Timmer dari Center for Global Development pun segendang sepenarian. Menurutnya, krisis pangan membuat tidak kurang dari 10 juta jiwa sekarang berada dalam ancaman kematian dini (premature death).

Mungkinkah subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan kelangkaan pangan yang terjadi di Indonesia akhir – akhir ini berhubungan? Mencoba menjawab pertanyaan tersebut, saya teringat wejangan ekonom Perancis bernama Frederic Bastiat (1801-1850). Ada satu pembeda penting antara para pengambil kebijakan yang buruk dan pengambil kebijakan yang cerdik, demikian Bastiat jauh hari mengingatkan kita. Mereka yang buruk kerap membatasi diri, membuat kebijakan hanya berdasar pada akibat yang terlihat (seen effect), sementara mereka yang cerdik mempertimbangkan akibat yang terlihat dan secara bersamaan memperkirakan akibat yang tak terlihat (unseen effect).

Bastiat memberi contoh. Ketika kita berjumpa pemilik jendela dengan kaca yang pecah, orang sering melipur, “Ah, apa kerja tukang kaca jikalau tidak pernah ada kaca yang pecah”. Panggil tukang kaca, beri dia upah dan masalah akan selesai. Itu adalah akibat yang terlihat. Namun pendapat yang menyebut bahwa beramai – ramai memecah kaca jendela adalah baik untuk mendorong industri kaca bertumbuh adalah salah kaprah. Mengapa? Karena setiap rupiah yang kita bayarkan kepada tukang kaca tidak lagi bisa dibelanjakan untuk, misalnya, mengganti sepatu yang usang, atau membeli buku baru. Ini adalah efek yang tak terlihat. Di titik ini, jikalau keduanya dijumlahkan, jelas bahwa pecah atau tidaknya kaca jendela sama sekali tidak memberikan manfaat bagi perekonomian. Keuntungan para tukang kaca harus dibayar dengan tetap menganggurnya tukang sepatu atau tidak terjualnya satu buku baru.

Mengganti contoh yang diberikan Bastiat sedemikian rupa, kaca jendela untuk subsidi BBM, dan tukang sepatu untuk sektor pertanian, hubungan antara keduanya samar – samar mulai terlihat. Bagaimana keduanya mungkin berhubungan?

Subsidi, Harga yang Rusak dan Distorsi

Mahal dan murahnya harga suatu barang tidaklah terjadi secara acak. Ia terbentuk berdasar interaksi permintaan dan penawaran atas barang tersebut. Tingginya permintaan suatu barang yang tidak diimbangi dengan ketersediaan memadai akan mendorong barang secara relatif menjadi lebih langka. Kelangkaan (scarcity) ini kemudian mendorong naik harga barang menjadi relatif lebih mahal. Begitu pula sebaliknya. Kemelimpahan barang yang hanya diikuti dengan permintaan rendah akan menghasilkan harga barang yang relatif murah.

Harga bertindak laiknya cermin. Ia merefleksikan ketersediaan suatu barang di pasar. Dalam kasus barang sejenis dan kondisi lain yang identik (cateris paribus), harga bertindak seperti detektor. Ia mengirimkan sinyal kepada kita bahwa jeruk yang lebih murah kemungkinan akan lebih masam dibanding jeruk yang lebih mahal. Maka menyalahkan harga ketika ia terlalu tinggi adalah tak berbeda dengan peribahasa “buruk muka cermin dibelah”. Di lain pihak, tindakan memanipulasi harga dengan subsidi tak ubahnya seperti memburamkan cermin atau merusak detektor. Keduanya sama sekali tak mengubah fakta sesungguhnya tentang ketersediaan dan kualitas barang yang sebenarnya ada di pasar.

Harga yang rusak bertindak laiknya cermin yang buram dan detektor yang rusak. Ia akan sangat membingungkan. Kita tidak lagi bisa menduga mana jeruk yang masam dan mana yang manis. Kita juga sulit memperkirakan ketersediaan barang tersebut di pasar. Yang paling celaka, harga yang rusak mendistorsi preferensi dan kelakuan kita. Mengapa harus berhemat listrik, misalnya, ketika tarif listrik masih relatif murah (karena subsidi)? Atau, kenapa harus repot naik kendaraan umum ketika harga BBM yang murah (karena subsidi) memungkinkan kita untuk tetap berkendara motor atau mobil pribadi? Efek distorsi pun bisa jadi bertambah panjang. Inisiatif untuk membangun jaringan transportasi publik terpadu menjadi datang terlambat karena pemerintah (kota Jakarta contohnya) keliru membaca masalah dan akhirnya salah dalam mengambil keputusan: mengapa harus membangun toh masyarakat mampu menyediakan sendiri sarana transportasi pribadi. Alih – alih menyelesaikan masalah, diagnosa dan pengambilan keputusan berdasar fakta terditorsi mengakibatkan distorsi bertambah parah dan kebijakan publik makin tak terarah. Uraian ini menjelaskan anomali yang terjadi di republik ini dimana meroketnya harga minyak dunia justru dibarengi dengan makin tingginya permintaan akan mobil dan kendaraan bermotor pribadi.

Subsidi BBM dan Sektor Pertanian

Anggaran belanja negara adalah elemen penting sebuah perekonomian. Itulah mengapa pidato presiden tentang rancangan APBN tiap tahun selalu dinantikan para pelaku pasar. Sayangnya, derajat kepentingan yang tinggi ini sering tidak diimbangi dengan kehati-hatian perencanaannya. Sebagaimana diungkapkan Bastiat, pengambil kebijakan publik mudah terjebak untuk hanya mempertimbangkan efek yang terlihat. Kebijakan jenis ini walaupun biasanya sangat populer (sehingga dinamakan kebijakan populis), sering kali hanya memberikan dampak semenjana, kalau tidak bisa dikatakan sia – sia, pada perekonomian.

Sejak terjadinya krisis di medio akhir 1990-an, kemampuan APBN untuk menstimulus perekonomian terus berkurang. Anggaran belanja pemerintah tiap tahunnya sesak didominasi oleh pengeluaran rutin non produktif seperti pembayaran hutang dan pemberian subsidi. Investasi baru yang diwakili oleh belanja modal hanya mendapat ruang relatif kecil. Dana yang minim ini pun lagi harus dibagi ke tiap puluhan departemen pemerintah dan sektor – sektor lain yang membutuhkan. Bisa dibayangkan betapa kecil investasi yang dilakukan pemerintah tiap tahunnya dan betapa sulit untuk berharap muncul hasil investasi yang signifikan dengan model alokasi seperti ini.

Spesifik untuk sektor pertanian, Indonesia mengalami penurunan pertumbuhan produksi beras sejak awal 1990-an. Titik balik penting adalah tahun 1995 dimana pemerintah tidak mampu lagi berswasembada. Tercatat tidak kurang dari 3 juta ton beras didatangkan dari luar negeri di tahun itu. Krisis ekonomi di akhir 1990-an memperparah kondisi sektor pertanian. Pertumbuhan produksi yang “hanya” 0.68% per tahun lebih banyak dikontribusikan oleh pengembangan lahan daripada tersedianya tekhnologi baru (Malian, Mardianto, Ariani 2004). Perhitungan kasar menunjukkan bahwa dibutuhkan hampir sepertiga dari seluruh APBN pemerintah untuk memperbaiki dan meningkatkan performa irigasi sektor pertanian setingkat produktivitas akhir 1980-an. Statistik juga mencatat tidak kurang dari 40% jalan di pedesaan berada pada kategori rusak atau rusak berat. Tidak heran produksi beras menjadi berbiaya tinggi, kurang menguntungkan dan hampir – hampir tidak menarik lagi.

Secara keseluruhan dalam APBN 2008, Departemen Pertanian hanya memperoleh dana sekitar 9 triliun untuk kemudian diturunkan menjadi 7,8 triliun dalam RAPBN-P 2008. APBN 2008 juga mencatat pemerintah menganggarkan “hanya” Rp. 7.5 trilliun untuk subsidi pupuk dan Rp 725 miliar untuk subsidi benih. Angka di atas amat jauh dari alokasi subsidi BBM yang berada di kisaran 45.8 triliun untuk APBN 2008 sebelum akhirnya direvisi kembali di RAPBN-P 2008 menjadi 106,2 triliun. Nyata sekali bahwa dominasi subsidi BBM bukan hanya membuat APBN rentan goncangan eksternal, ia juga berkontribusi dalam ketidakmampuan kita untuk membenahi sektor pertanian.

Tidak Ada Kenikmatan Cuma Cuma

Apa yang terjadi di Indonesia sedikit banyak mirip dengan peringatan Bastiat. Puluhan (untuk kemudian ratusan) triliun rupiah yang dibelanjakan pemerintah untuk subsidi BBM tidak mampu lagi didayagunakan untuk banyak kepentingan lain. Sektor pertanian adalah satu contoh efek yang sebelumnya tak terlihat. Sektor kesehatan, sektor pendidikan dan bahkan mungkin sektor pertahanan adalah sedikit di antara kandidat – kandidat efek tak terlihat lainnya.

Sudahlah terjerembah, tangga pun jatuh menimpa. Subsidi BBM tidak hanya melahirkan pola pikir distortif dan boros energi, ia juga menyebabkan selisih harga BBM domestik dan internasional menjadi semakin lebar. Ini adalah peluang emas bagi kegiatan kriminal dan arbitrasi. Ketika Presiden sibuk mengimbau masyarakat untuk hemat energi, korps kepolisian mengkhawatirkan sekitar 40% BBM bersubsidi diselewengkan penggunaanya dan bahkan diselundupkan ke luar negeri.

Bastiat dan cerita satire tentang kaca jendela sebenarnya mengingatkan kita pada banyak hal. Bastiat tentu tidak membenci tukang kaca, sebagaimana ia mungkin juga tidak anti terhadap subsidi. Alih – alih, ia mengajak kita untuk lebih berhati – hati terutama dalam mempertimbangkan kompleksitas efek tak terlihat dari subsidi.

Pelajaran lain dari cerita Bastiat adalah hampir tidak adanya kenikmatan yang datang dengan cuma cuma di dunia ini. Seperti kisah tukang kaca, tukang sepatu dan penjual buku, kemewahan yang kita nikmati dalam bentuk murahnya harga BBM ternyata harus dibayar mahal dengan banyak hal, salah satunya adalah dengan terseok – seoknya sektor pertanian dan bayang bayang kelaparan yang entah sampai kapan akan menghantui kita.

Tuesday, December 04, 2007

Gianluigi Buffon is in

Here it is Gigi's take on (government) intervention:

The last question concerns the “third half” everybody's talking about. The League officials appreciated Fiorentina's players' gesture at the end of the match against Inter Milan, when they applauded and greeted their opponents, and have decided that from January this will have to be applied by all teams:

“This is an important fair play signal – Gigi commented – even though perhaps I don't like the fact that this initiative needs to be officially enforced, instead of coming from the players themselves. On an educational level, I think it's more than right to do this, but I definitely prefer the way this “third half” was applied in Sunday's match in Florence, spontaneously, without anyone pushing or forcing anybody to do it”

My friend, Rizal, will definitely say that Gigi's is the member of laissez-faire club.

Sunday, February 11, 2007

Bencana, Kemiskinan dan Pemerintah
Alief Aulia Rezza*
(the published version by Media Indonesia on 08-02-2007 has some minor changes)

Kematian satu orang adalah tragedi, kematian jutaan orang adalah angka statistik”. Begitu Josef Stalin) pernah berkata. Hari – hari ini rakyat Indonesia mungkin akan seirama mengangguk ketika kutipan di atas dibacakan. Bencana beruntun membuat kita seakan terbiasa dengan musibah, tragedi, dan bahkan hilangnya nyawa manusia. Dengan segala hormat, terperosoknya KA Bengawan Solo yang menewaskan 5 jiwa mungkin tidak begitu tragis, terutama karena kita telah “dikondisikan” dengan hilangnya 112 orang di penerbangan Adam Air dan tenggelamnya KM Senopati dengan 628 penumpang di dalamnya.

Daftar musibah akan berderet panjang jika kita menengok ke belakang. Tsunami di Aceh dan Pangandaran, gempa di Yogya, tanah longsor dan banjir bandang di beberapa tempat, kecelakaan lalu lintas dan kereta api, penyakit menular mematikan seperti flu burung dan demam berdarah serta konflik bersenjata menjadi penghias surat kabar dan televisi kita selama beberapa tahun terakhir. Tentu, dengan korban jiwa tidak sedikit di tiap kejadiannya.

Begitu murahkah harga hidup manusia Indonesia? Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah?

Harga Hidup Kita dan Kemiskinan

Ilmu ekonomi percaya bahwa harga hidup anda ditentukan diri anda sendiri. Cara paling mudah mengukurnya adalah dengan bertanya langsung kepada diri anda (stated preference). Sayangnya, cara ini berpotensi menimbulkan bias karena anda mungkin akan melebih – lebihkan jawaban anda. Pendekatan lain adalah dengan mencermati langsung perilaku anda (revealed preference). Jika anda rela membeli helm ketika berkendara motor, anda menghargai diri anda lebih dibanding mereka yang tidak berhelm. Jika dinas lalu lintas mengatakan pemakaian helm mengurangi kemungkinan seseorang meninggal dalam kecelakaan sebanyak 1 per 10.000, dan anda membeli helm seharga Rp. 200.000,- untuk mengurangi kemungkinan kematian dalam kecelakaan, anda menghargai hidup anda sebesar Rp. 2 Milyar.

Dengan logika yang sama, pejabat pemerintah atau wakil rakyat yang memberikan izin operasi kapal feri tua serta pesawat renta tak laik pakai atau membiarkan pembalakan liar yang berpotensi menimbulkan banjir dan tanah longsor demi beberapa milyar rupiah sesungguhnya telah menggadaikan nyawa rakyat Indonesia dengan murah sekali.

Penelitian menunjukkan penduduk negara miskin menghargai hidup mereka lebih rendah. Ini tidak mengherankan. Jika saya miskin, saya mempunyai uang lebih sedikit untuk dibelanjakan, termasuk untuk menghargai hidup saya sendiri. Ilustrasi ini menjelaskan fenomena kemiskinan di Indonesia sekaligus menerangkan mengapa tiap pagi ratusan orang duduk di atap kereta dengan resiko tersengat kabel listrik, ratusan lainnya tinggal di tepi rel dengan kemungkinan tersambar kereta lewat, membangun rumah dengan pondasi rentan terhadap gempa, atau berjubel berlayar menggunakan kapal tua serta terbang dengan maskapai berarmada renta, tentu saja, dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan yang lebih tinggi.

Kemiskinan dan Pemerintah

Kemiskinan negara dan keterbatasan anggaran bukanlah dalih yang tepat bagi pemerintah untuk pasrah terhadap rentetan bencana dan alpa terhadap kewajiban melindungi rakyat. Dalam The End of Laissez-Faire (1926), Keynes) menyebut tugas terpenting pemerintah bukanlah mengerjakan sesuatu yang telah dikerjakan oleh individu, melainkan mengerjakan sesuatu yang sama sekali belum pernah dikerjakan oleh individu. Ide ini kemudian dijelaskan lebih rinci oleh pemikiran New Institutional Economics. Dalam mazhab ini, institusi (kelembagaan) berperan penting terutama dalam perekonomian berbiaya transaksi (transaction cost) tinggi serta informasi yang tidak sempurna (imperfect information). Rodrik (2000) menyebut lima jenis institusi pendukung kinerja pasar. Satu yang paling relevan dibicarakan disini adalah institusi pembuat kebijakan (regulator).

Meski bukan satu-satunya, pemerintah adalah salah satu institusi yang utama dalam perekonomian. Ketika pemerintah tidak mampu mengemban tugas untuk mengurangi biaya transaksi dalam perekonomian dengan baik – misalnya dengan menyediakan jalan raya, pelabuhan, bandara, dan rel kereta yang memadai – pemerintah dituntut untuk tidak mempersulit kinerja pasar dengan pungutan liar atau birokrasi yang berbelit.

Pemerintah juga tidak dituntut untuk menyediakan layanan publik yang bagus, jika memang anggaran terbatas menjadi kendala. Namun pemerintah, tidak bisa tidak, dituntut untuk menjadi regulator yang baik. Rodrik (2000) menyebut bahwa persaingan yang makin bebas di perekonomian harus diimbangi dengan institusi yang kuat, regulasi yang berkualitas dan penegakan hukum yang tegas. Kasus industri penerbangan dan perhubungan di Indonesia layak dihubungkan dengan peringatan Rodrik ini. Begitu pula dengan peraturan pemilihan lahan tempat tinggal, pembalakan liar, dan banyak lagi lainnya.

Akhirnya, menyebut kejadian belakangan ini sebagai bencana atau musibah mungkin terlalu eufimistik. Situs WALHI menyebut banjir, tanah longsor, kekeringan dan kebakaran hutan akhir – akhir ini sebagai “bencana terencana”. Andre Vltchek, jurnalis dan novelis, menyebut korupsi sebagai akar kelambanan pemerintah untuk menyelesaikan segala permasalahan. Bencana yang terjadi justru dimanfaatkan oleh oknum pemerintah untuk memetik keuntungan dan, lagi – lagi, melakukan korupsi. Ketika “pencurian” ini harus dibayar dengan ratusan ribu nyawa, musibah dan bencana alam kiranya bukan lagi terminologi yang tepat untuk digunakan. Seperti kata dia “Itu semua adalah pembunuhan massal”.

Andre Vltchek mungkin terlalu sinis kepada pemerintah, namun bahkan saya tak hendak untuk berbeda pendapat dengannya.

Alief Aulia Rezza, mahasiswa Master, program Development and Resource Economics di Norwegian University of Life Sciences.