
Buat saya belajar bahasa Inggris itu susah. Sampai usia yang lebih dari seperempat abad, saya menilai bahasa Inggris saya masih belepotan. Terutama
speaking-nya. Pun begitu, level bahasa Inggris yang demikian ini tidak saya capai dengan mudah. Butuh waktu lama dan seringnya
makan ati.
Seperti rekan-rekan lain di usia yang sama, pengenalan formal dengan bahasa Inggris saya mulai di bangku SMP, kelas 1 tepatnya. Sebelum itu, praktis singgungan saya dengan bahasa Inggris adalah seadanya, kosa-kata harian yang sering didengar anak – anak:
snack (
chiki - misalnya), aqua (air kemasan),
wafer (makanan ringan lain) dsb. Saya sempat ikut kursus bahasa Inggris waktu SMP. Jangan bayangkan kursus model LIA, EF atau ILP, ini cuma datang dua kali seminggu ke rumah teman yang ibunya dosen bahasa Inggris. Materi kursusnya sejalan dengan materi ajar di sekolah. Akses lainnya ke bahasa Inggris nyaris nihil. Tidak ada akses TV ke BBC , atau Disney Channel misalnya, atau akses ke novel-novel bahasa Inggris. Lagu dengan lirik Inggris memang banyak, tapi saat itu belum terpikir untuk begitu mendalami arti tiap kata. Beberapa teman yang relatif berkecukupan memilih untuk kursus komuter di Surabaya, kota berjarak sekitar 2 jam dari kota tempat saya tinggal. Tentu berat di ongkos dan waktu. Saya sendiri tidak masuk di kelompok ini.
Masuk SMU, saya sudah tidak lagi ikut kursus. Ibu teman teman saya yang dosen ini memutuskan untuk memberi prioritas waktu dan ruang rumahnya untuk memberi kursus ke anak-anak usia SD dan SMP. Maklum, waktu dan pemasukan hampir sama, tapi tuntutan materi jauh berbeda. Di SMU juga saya sempat ikut
Pioneer English Club -- keren sekali namanya -- sejenis organisasi ekskul di sekolah. Saya lupa, entah saya yang malas-malasan datang ke pertemuannya, atau memang pertemuannya tidak rutin diadakan, yang jelas saya tidak beroleh banyak manfaat dari organisasi ini. Sebenarnya SMU saya mempunyai Lab Bahasa Inggris. Tapi entah kenapa, seingat saya, dari 3 tahun sekolah kami para murid hanya diajak ke sana kurang dari 5 kali. Celakanya lagi, SMU adalah saat dimana saya sedang malas – malasnya belajar. Tidak ada progress berarti di kemampuan bahasa Inggris saya selama SMU. Kelak saya sempat dibuat merinding ketika berkunjung ke rumah kawan saya di kawasan Kebayoran Jakarta. Saya melihat keponakan teman saya ini, masih berusia SMP, menulis dengan lancar tugas sekolahnya dalam bahasa Inggris. Ini yang banyak saya sesali: medio SMP-SMU dimana teman – teman sebaya saya di Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya dan kota besar lainnya sedang menikmati
progress luar biasa di kemampuan Bahasa Inggrisnya, saya ber
progress hampir –hampir nihil.
Namun, syukur luar biasa saya rasakan karena bangku kuliah memberi banyak andil dalam proses belajar bahasa Inggris saya. Di minggu pertama kuliah, saya sempat khawatir untuk bisa
survive di kampus, terutama setelah melihat
text book kuliah hampir semuanya berbahasa Inggris:
Lipsey (Economics),
Warren-Reeve-Fess (Accounting),
Alpha Ciang (Matematika Ekonomi), dan beberapa lagi yang saya lupa. Sempat putus asa dengan buku-buku itu, saya mencoba beralih ke buku terjemahan. Sebuah keputusan yang fatal karena terjemahan buku-buku tersebut sangat memusingkan (
literally!!!). Saya kembali ke buku – buku teks bahasa Inggris dan membuktikan validatas
learning curve: sangat susah di awal, namun menjadi lebih mudah di waktu berikutnya. Pendeknya,
reading-understanding saya mengalami peningkatan drastis, tapi masih bego di nilai absolut.
(Seperti economy growth negara miskin yang bisa 7% setahun, tapi tetap saja GDP nya tidak bisa melampaui negara kaya yang, seperti Norway misalnya, mungkin hanya bertumbuh 2-3% setahunnya).
Di tahun ketiga perkuliahan, saya tambah sadar kalau kemampuan bahasa Inggris saya itu:
Reading: Tidak Memalukan,
Listening: Tidak Memalukan,
Writing: Not Available, hehe..
Speaking: Sangat Memalukan.
Teman-teman yang sempat satu panggung di perlombaan mahasiswa berprestasi fakultas dan universitas mungkin bisa jadi saksi. Walau jadi juara, mungkin itu kali pertama UI punya mapres (mahasiswa berprestasi) dengan kemampuan bahasa Inggris memalukan. Bisa ditebak, saya sukses terkapar di kompetisi yang sama di tingkat nasional.
Skill bahasa Inggris mungkin jadi salah satu penyebabnya. Jadi lebih memalukan karena saat sesi tes bahasa Inggris, saya berada satu sesi dengan mahasiswa lain yang kemudian jadi juara. Mbak – mbak juara nasional ini (mau di link blog-nya tapi saya tidak punya akses ke sana, hehe...
Only her close friend can access and I, considered as a-not-close one, can not. hehehe...) katanya mulai baca novel bahasa Inggris sejak SMP, ikut sejenis EDS (
English Debating Society), dan jadi presiden himpunan mahasiswa sejurusan-nya tapi di level internasional (setidaknya itu yang dia sampaikan di sesi
ice-breaking perkenalan diri. Strategi yang jitu, membuat juri
aware akan posisi dia, sekaligus menjatuhkan mental kompetitor semacam saya, hehehe). Jauh sekali bukan bedanya? Ini mungkin contoh riil kalimat
there is no such thing such a free lunch. Saya yang menghabiskan masa SMP dan SMU untuk main bola, basket, dan sok sibuk di OSIS harus membayar alokasi waktu masa itu dengan kemampuan bahasa Inggris sekarang yang seadanya.
Lepas dari situ, saya tetap memaksakan ikut lomba dan kompetisi lain yang membutuhkan kemampuan bahasa Inggris. Saya tahu saya tidak bakal lolos, tapi setidaknya saya menceburkan diri ke situasi yang memaksa saya belajar. Ada lain cerita dimana saya dipanggil wawancara program
SIF-ASEAN Student Fellowship. Agar tidak memalukan, saya berstrategi dengan membuat simulasi wawancara, mencatat pertanyaan yang mungkin muncul, membuat
draft jawaban dalam bahasa Indonesia, kemudian menerjemahkan ke bahasa Inggris. Agar tidak lupa, jawabannya saya rekam dan saya ingat – ingat. Kaset rekaman saya dengar lagi untuk dilihat cacatnya ada dimana. Melelahkan sekali memang. Banyak yang jelek tentu saja: dialek yang keluar adalah dialek Jawa, grammar berantakan, dan jawaban tidak terstruktur. Tapi ya kalau jalannya harus seperti itu mau bagaimana?
Masih banyak cerita memalukan lain (yang tetap ingin saya ingat sebagai bagian dari proses belajar saya). Seperti ikut
training gratis dari kampus untuk para asisten dosen yang ingin melamar S-2 ke luar negeri. Saya masuk
training dengan hasil TOEFL test 530-an kalau tidak salah, selesai training, TOEFL saya malah turun jadi 520-an. Sempet dicela habis-habisan oleh
trainernya, dan juga dibanding – bandingkan dengan peserta training yang lain (sesuatu yang amat saya benci!). Ada secarik cerita manis ketika akhirnya saya, yang
sebel dengan caci maki itu, memutuskan untuk belajar sendiri, dan akhirnya sukses untuk bisa dapat TOEFL 543 dan akhirnya berangkat ke Norway. (Menyedihkan bukan? 543
aja dibanggain). Masih terbayang wajah khawatir (atau meremehkan?) dari
trainer tersebut ketika saya mengabarkan
admission saya untuk S-2 di Norwegia. Mungkin beliau
ngerasa saya tidak bakal survive dengan
skill bahasa Inggris saya. Bisa dipahami, karena beliau selain
trainer, kebetulan juga merupakan juri kompetisi mapres di tingkat fakultas dan universitas. Beliau tentu paham betul gimana
ancurnya bahasa Inggris saya.